Minggu, 17 April 2011

Pacu Jawi

 Pacu jawi merupakan atraksi permainan anak nagari di Kab. Tanah Datar. Pacu jawi pada awalnya merupakan kegiatan pengisi waktu, saat musim tanam tiba. Berbeda dengan karavan sapi di Madura yang diselenggarakan di arena kering. Pacu jawi di Tanah Datar di gelar di pesawahan sehabis panen dalam kondisi arena berlumpur.

Uniknya pacu jawi ini dilombakan bukan dengan pasangan lawan sebagaimana layaknya perlombaan, tetapi hanya dilepas satu pasang setiap lomba. Seorang joki mengendarai sepasang jawi yang diapit dengan peralatan pembajak sawah sambil memegang tali dan ekor kedua sapi. Ketika joki ingin berlari cepat, dia akan menggigit ekor-ekor sapi. Semakin cepat sapi itu berlari, semakin keras dia harus menggigit ekor sapi.

  










http://www.tanahdatar.go.id
 

Sabtu, 16 April 2011

Sejarah Batu Batikam DI Tanah datar


1. Terdapat batu besar dan keras yang ditikam dengan keris, yang menurut sejarah ditikam oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang sebagai pelampiasan emosi ketika bertikai dengan Datuk Katumanggungan.

2. Dapat melihat lobang hasil tikaman secara langsung pada batu

3. Terletak di Nagari Limo Kaum.
Datuak Parpatiah dan Datuak Katumangguangan berdebat hebat. Keduanya adalah orang bersaudara, berlainan bapak. Datuak Parpatiah nan Sabatang, adalah seorang yang dilahirkan dari seorang bapak aristokrat (cerdik-pandai). Sementara Datuak Katumangguangan, dilahirkan dari seorang ayah yang otokrat (raja-berpunya). Namun pada keduanya, juga mengalir darah dari ibu yang sama, seorang perempuan biasa, seperti apa adanya.

Darah yang mengalir di tubuh keduanya, ternyata berpengaruh pada pandangan hidup yang dijalani. Datuak Parpatiah, menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” (demokratik). Sedang Datuak Katumangguangan, menginginkan rakyat diatur dalam sebuah tatanan yang “berjenjang naik, bertangga turun” (hierarkhial). Perbedaan yang kemudian meruncing menjadi perdebatan, bahkan menjurus menjadi pertikaian...

Sama-sama menghindari untuk melukai saudaranya, kedua datuak kemudian menikamkan pedang dan kerisnya pada batu. Kedua batu itu sekarang, dikenal dengan nama “Batu Batikam” (Batu yang ditikam). Yang satu berdiri tegak di tepi jalan Limo Kaum, di Batu Sangkar Sumatera Barat. Yang lain, ditelan oleh waktu, tinggal cerita, namun tetap dikenang sebagai pertanda. Betapa nenek moyang, yang memiliki kesaktian untuk menghancurkan, bahkan tidak menyukai kekerasan
.

Datuak Parpatiah lalu pergi merantau. Memperbandingkan keyakinannya dengan dunia luar. Datuak Katumangguangan sebaliknya, tinggal menjaga kampung halaman, dan membenamkan dirinya dalam kumpulan kebijaksanaan yang ditinggalkan leluhur. Dua cara berbeda, dengan satu tujuan, mencari kebijaksanaan. Dua perjuangan, dengan satu cita-cita, mengatur rakyat agar sejahtera.

Masa berganti, musim bertukar, keduanya bertemu. Dengan kematangan yang semakin baik, sudah tentu. Juga dengan kepala yang semakin banyak tahu. Lalu keduanya duduk berbagi ilmu. Melerai perseteruan yang pernah terjadi bertahun-tahun berlalu. Dan akhirnya bersepakat untuk saling bahu-membahu. Menjadikan rakyat semakin pintar dan maju. Melupakan egoisme masing-masing, mendahulukan kepentingan orang banyak, karena itu lebih penting.

Demikianlah, legenda itu hidup berabad-abad. Disampaikan ke anak-cucu sebagai pelajaran tentang martabat. Kedua sistem tetap hidup hingga kini, berdampingan dan bersahabat. Saling melengkapi dalam jalinan yang erat. Menjadi dua partai yang semacam Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat. Menjadi sejalur rel, dua garis yang berjalan bersama, tak renggang, meski juga tak akan pernah merapat.

Batu Angkek-Angkek,Keajaiban Alam dari Batusangkar














Pesona  Batu Angkek-angkek:

1. Berawal dari mimpi Dt. Bandaro Kayo, salah seorang Kepala Suku Kaum Piliang, ditemukan sebuah batu yang ganjil dipandang mata.

2. Terletak di Nagari Tanjung Kec. Sungayang sekitar 11 km dari Kota Batusangkar

3. Dipercaya masyarakat sebagai penguji apakah suatu keinginan atau cita-cita akan terkabul atau tidak, jika batu ini sanggup diangkat, berarti keinginan akan terkabul, jika tidak terangkat, maka keinginan tidak terkabul.

4. Ada orang yang berbadan besar tapi tidak bisa mengangkat batu ini, tapi ada orang yang tidak berbadan besar tapi sanggup mengangkat batu ini.



Menurut penjaganya yang merupakan keturunan Datuak Bandaro Kayo yang ke sembilan.Batu itu pertamakali ditemukan oleh Datuak Bandaro Kayo ketika akan memancang tonggak (tiang) rumah.
Konon dahulunya,Datuak Bandaro Kayo adalah kepala kaum suku Piliang bermimpi didatangi oleh seorang ulama besar Syech Ahmad,dalam mimpinya Syech Ahmad berpesan agar Datuak Bandaro Kayo mendirikan sebuah kampung.Sekarang kampung itu adalah Kampung Palagan.
Keanehan terjadi ketika Datuak Bandaro Kayo memulai memancangkan tonggak pertama.Ketika itu terjadi gempa lokal yang disusul dengan hujan panas selama empat belas hari empat belas malam.Dengan terjadinya peristiwa tersebut masyarakat mengadakan musyawarah.Pada saat musyawarah itu berlangsung terdengar suara aneh yang berasal dari lubang tempat Datuak Bandaro Kayo memancangkan tonggak pertama itu.Suara itu memberitahukan bahwa didalam lubang tersebut ada sebuah batu.Suara itu juga berpesan agar batu itu dijaga baik-baik.
Oleh Penemunya Datuak Bandaro Kayo Batu itu diberi nama Batu Pandapatan yang maksudnya batu yang didapat.
Entah siapa yang memulai atau siapa yang bermimpi batu tersebut dapat meramal nasib,sampai sekarang tidak diketahui.Yang didapati dari yang tua-tua hanya sebuah kepercayaan bahwa batu tersebut dapat meramal nasib seseorang dengan cara mengangkatnya.
Oleh karena batu ini sering diangkat (oleh setiap orang yang meramal nasibnya).Maka saat sekarang Batu ini lebih terkenal dengan nama Batu Angkek-Angkek ketimbang BatuPandapatan. (Angkek=Angkat).
Batu ini dipercaya oleh masyarakat memiliki kekuatan gaib dapat meramal nasib seseorang entah iya, entah tidak,entah lah.Yang jelas orang cukup banyak mendatangi Rumah Gadang keturunan Datuak Bandaro Kayo tersebut,mulai dari masyarakat sekitar,lokal dan juga nasional.

Batusangkar


Batusangkar
An old small town, 50 km southeast of Bukit Tinggi, it is a centre of the ancient Minangkabau culture. Pagaruyung is the historical site of a Minangkabau kingdom in the 14th century. Nearby is where some archaeological vestiges, such as the Written Stone, the Stabbed Stone and some other relics can be foun

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes